"Everyday is a brand new start"

Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

06 April 2017

Where the story ends..

Bismillah..



There’s something amazing I want to share with you about this life or exactly, about “love”.

In the fairy tale, romantic dramas and movies, the story ends with the oneness of two souls; finding and wedding. Everyone around you will make you think that your path ends there, means at the place you meet your other half. Your journey is complete. Congratz!

It is a lie and I’ve been lied too. 


I always wondering is only that the marriage about? Getting to love each other, be romantic, having children etc. Is it just to settle our feeling of emptiness or in love? Or so that we’re not be called “anak dara tua” or “tak laku” or something like that? 




Now that I've learned the lesson, yes, just after some trials (disappointments and heartbreak) in my life. Basically, if we are chasing a feeling; to be loved, we will always be chasing because no feeling is constant. It is inconstant and changing, or berbolak-balik. The more we chase it, the more it will run away from us.


Learning to define love is quite struggling for me. I finally found that getting married is not where the story ends. That’s where it begins and the building starts. 


There, I have to build a different barakah life, character, sabr, perseverance and sacrifice. And also the building of love for the sake of Allah. Getting married should be the building of my path back to Him and getting easier to close to Him. Getting married for me, is to build the legacy (children) who continue dakwah, who loves Allah and tells the others how kind and great Allah is. InshaAllah Amin.




Married is not just about the love between two person. If the person we’re married become our ultimate focus in life, our struggle has just begun. Our spouse becomes the greatest test. We will keep hurting until we remove him or her from the place in our heart, which only Allah should be there. 


People is a part of dunya. 


Love too much to people meant being attached to dunya. The attachment will take over Allah’s place in our heart as we spend a lot, thinking that they will never leave and die. Then the fear of loss comes and consumed us.


Allah itu Maha Pencemburu, indeed.


I want a type of love, which is the rarest. It is unselfish love. The love which is not competing with the love to Allah. The beauty we see in the people is a reflection of the Creator, so we love them. We want to be with them, because we love our Creator. I’m very sure this love will bring most joy and bless. To love for what they are, not for what they can give to me. It isn’t about what we are getting, but rather what we can give. 


Once we see everything beautiful as only a reflection of God’s beauty, we will learn to love in the right way; for His sake. Everything we do is for and because of Him. To please Him. It means the only love we chase, is the love of Allah. It’s heard hard right? But that’s the reality we have to fight for. 




We, are made to seek, love and strive for what is perfect and permanent. It’s just because we were not created for this life. Our true home was paradise, a land that is both perfect and eternal. It is in dunya we live now. A place of temporary attachments where people and something else are with us today and leave or die tomorrow. 


Don’t put expectations or hope too much.


Sederhana itu indah bukan?



Share:

21 January 2017

27 tahun mencintaiMu


Bismillah...


Mak selalu tak lupa menghargai anak-anaknya
Terkadang langit yang indah sekalipun tak dapat melukiskan kebahagiaan yang sedang kamu rasakan. Syukuri setiap bagian dalam hidupmu!  

 ― gmwr

Teruntuk diri sendiri, 

Selamat hari lahir dan selamat mengecapi kedewasaan yang misteri!

Alhamdulillah, syukur masih diberi nafas oleh Allah sehingga menginjak ke hari ini, umurku kini 27 tahun.

Sambut birthday dengan nasi kandaq

Rasa terharu. Abah, mak dan adik-adik sudi datang berjumpa, makan-makan sempena hari lahir. Biarpun umur hampir mencecah 30 an, terasa muda bila dimanja-manja oleh mak dan abah. Dengan kehadiran mak dan abah hari ini, Allah kabulkan impian bulan ini untuk belanja mereka makan. Semudah itu jalannya, terima kasih Allah!

Syukur, masih ada teman-teman yang mengingati tarikh lahir dan sudi memberi ucapan serta doa-doa yang diharapkan. Lihatlah wahai diri, begitu ramai yang menghargai dan menyayangimu. Terima kasih banyak untuk ingatan kalian.


Hadiah dari housemate

Maka layakkah aku untuk merungut-rungut dengan apa yang telah terjadi sepanjang hidupku 26 tahun? Setelah begitu banyak nikmat yang Allah beri, jarang pula yang aku syukuri.

A grateful heart is a magnet for miracles.
Without gratitude to Allah, nothing feels complete, nothing is ever enough.
-Umm Hafsa- 

27 tahun, umur sebegini sangat dekat dengan kematian. Masih kurang yang kulakukan untuk agama. Masih kurang aku berbakti pada mak dan abah. Masih kurang aku memberi. Masih kurang aku menyayangi dan menghargai.

Masih kurang pula aku mensyukuri!



27 tahun telah cukup dewasa untuk belajar dari apa yang dijalani, dari pengalaman yang menyakitkan dan menyenangkan hati. For everyday that passes, we can always reinvent ourself and start all over again.

Memberi, menyayangi, mencintai setulus hati. Sepenuh hati. Tanpa minta dibalasi. Tanpa merungut di bibir dan hati. Itulah definisi ikhlas yang Allah redhai.

Berharaplah hanya pada Allah. Kerana pengharapan kepada manusia adalah sesuatu yang sia-sia. Mereka tidak sempurna dan bukan tempat letak harapan. 

Menerima dan memahami ketidaksempurnaan manusia adalah pilihan kita. Agar ada rasa syukur Allah mengurniakan keberadaan mereka yang menemani perjalanan kita di dunia. Memberi hikmah, kemanisan, teladan dan pengalaman. 

Tak ada yang perlu dicemburui pada kehidupan orang lain. Setiap orang Allah berikan bahagian masing-masing. Apa yang kita miliki ada yang menginginkan agar mereka juga miliki. Sebab itu, siapa yang mensyukuri dia paling banyak memiliki.
Catatan ini adalah dari hati seorang gadis tatkala usianya mencecah 27 tahun. 

Semoga 27 tahun ini kemuncak kehidupannya menjadi lebih hebat di sisi Allah, lebih banyak beramal dan berbuat kebaikan, lebih banyak memberi manfaat kepada agama dan ummah. Semoga usia ini tak disia-siakan.

Hey, kau sudah besar wahai budak nakal!

Share:

19 August 2016

Bila Nak kahwin?

Bismillah..

BILA NAK KAHWIN?


Siapa tak jealous.


Di facebook, bukan gambar majlis kahwin dah yang banyak, tapi majlis akikah. Kawan-kawan sebaya dah ada suami dan anak masing-masing. Gurau sahabat saya, “anak depa sudah berlari-lari, kita ada anak semut ja.” 

Dulu memang saya kisah. Zaman baru nak “up”.

Siapa tak nak kahwin.. ada keluarga sendiri.

Tapi setelah tahun berganti tahun. Persekitaran dan orang sekeliling pun berganti. Saya jadi semakin mengerti. Tiada siapa dapat menolak atau memaksa takdir Ilahi. 

Keinginan untuk kahwin yang teramat, istilahnya “peak time” mungkin sudah beransur-ansur normal kini.

Bukanlah sampai tiada rasa nak berkahwin. Jangan salah faham.

Allah mahu saya belajar mengenali diri sendiri sepanjang tempoh ujian ini. Saya belajar untuk mencari potensi diri dan kelemahan untuk diperbaiki. Berani saya katakan, semakin dewasa saya semakin jujur melihat diri sendiri. Terlalu banyak kekurangannya dan sangat tidak sempurna. 

Justeru, seperti kata faridzul, ‘just go with the flow’. Kita mungkin lupa, bahawa apa yang kita ada dan hadapi sekarang, itulah takdir Allah yang terbaik untuk kita. 

Bila kawan suruh doakan dipermudahkan jodoh, saya tanya, “nak saya doakan dapat jodoh terbaik ke spesifikkan nama?”

Allah knows the best. Sampailah umur yang sudah mencapai angka 26 ini, saya hanya dapat rumuskan satu hal dalam urusan jodoh, “Hanya Allah tahu yang terbaik”. 

Kita tak pernah tahu. Orang lain pun takkan tahu. Semua dalam pengetahuan Dia yang maha tahu. Siapalah kita yang serba lemah ini untuk mengatakan lebih tahu. Dari mata zahir, mungkin kita melihat segala kehebatan dan kebaikan seseorang, tapi siapa yang dapat menjangkakan di masa hadapan. Oh, saya bukan menakut-nakutkan kalian untuk berkahwin.

Bila dengar kata pepatah, “don’t judge book by its cover”, saya mengangguk. Dan saya sambung, because only Allah knows what is inside; past, now and forever. Kita patut yakin hanya pada Allah. Berharap yang baik hanya dari Allah.

Ramai orang salah anggap bahawa perkahwinan ibarat sebuah kotak yang cantik dan sempurna. Wrong. Marriage is an empty box. Kita lah yang perlu mencantikkan kotak itu.

A couple must learn the art, and form the habit of giving, loving, serving, praising sampai rumahtangga tu penuh dengan hal yang cantik-cantik. Kalaupun ditimpa ujian, akhlak pasangan tetap indah dan cantik.

Kalau kita mengharap lebih banyak dari memberi, kotak tu akan terus kosong.


Adakah kita sudah bersedia memberi tanpa syarat, be the person who serves the other better?
Adakah kita sudah berjaya runtuhkan keegoan yang ada dalam diri kita? Mengakui kesilapan kita? 
Adakah kita sudah bersiap memahami pasangan lawan jenis yang sangat berbeza dari kita?  
Mungkin, ini antara jawapan untuk pertanyaan kenapa Allah belum beri jodoh pada kita. Betul, mungkin juga sebab kita belum mampu dari segi kewangan atau lain-lain. Tapi mengakuilah bahawa kita memang bertuah sebab Allah beri lebih masa untuk perbaiki diri jadi lebih baik, lebih masa bersama ibu ayah, teman-teman, majlis ilmu dan merancang masa depan. There's still a lot that we need to work on. Bahkan, Allah beri ruang lebih banyak untuk mendekatkan diri pada-Nya.

Bukankah itu sudah cukup untuk mendorong kita menyebut, “alhamdulillah”?

Jangan menjadi orang yang menyesal. Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Time is too precious to waste. Untuk kita terlalu banyak memikirkan tentang jodoh tanpa melakukan yang terbaik untuk hidup yang cuma sekali ini.

Kematian atau jodoh yang menjemput dulu, we never know.

Jadi bila nak kahwin? 

It is easier said than done. InshaAllah, bila tepat masanya yang ke’tepat’annya hanya Allah yang tahu, bukan saya, bukan anda atau sesiapa. Saya percaya, sesuatu akan indah pada waktunya. 

Jodoh itu pasti ada, dan sedang berjalan menuju kita.

“Hidup itu seperti mendaki gunung. Ada tiga hal yang harus kita fahami dalam melangkah: pijakan yang tepat, pegangan yang kuat, dan genggaman yang erat—dari tangan terdekat. Yang terakhir wajib kita miliki. Sebab dalam mengharungi belantara kehidupan, kita tak boleh sendiri.” (herrycahyadi)



Dear you, 

Let’s grow up together. 

Jom menua bersama.

Till Jannah.

Amin.

Share:

07 October 2015

Peristiwa Peradaban

Gambar Hiasan

Bismillah..

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."  (Al-Furqon : 74)

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu dibicarakan namun ia pasti akan datang.

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang ertinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.

Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.

Al-Qur’an menjelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. 

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban. 

[Khutbah pernikahan anak Ust.Tate Qomaruddin oleh Ustaz Anis Matta]


Menikah adalah amanah. Menikah adalah dakwah. Maka segala di dalamnya harus sesuai dengan syariat ibadah, amanah, dan dakwah.

Benarlah, pernikahan adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan!

Wallahualam.
Share:

21 May 2015

I'm Jealous of You



Dalam satu Hadis Riwayat at-Tabrani, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah S.A.W:

" Ya Rasulullah, yang mana lebih utama? Wanita dunia ataupun bidadari bermata jeli?"

Baginda menjawab, "Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat."

Jawapan Rasulullah ini seperti matahari setelah mendung gelap gelita. Harapan untuk wanita-wanita dunia. Bahawa masih ada tempat kosong untuk menjadi bidadari dunia dan syurga. 

Allahu...



Sesekali ada rasa cemburu kepada wanita-wanita yang gigih berjuang di medan dakwah. Begitu juga kepada wanita yang mampu menggegarkan pentas dunia dengan lantangan suara yang menghancurkan kezaliman. Jauh di lubuk hati, selalu terbit rasa cemburu kepada wanita-wanita yang berjaya melahirkan keturunan ulama' dan pejuang, solehah sebagai anak, isteri dan bonda.

Cemburu ini semakin dewasa semakin terasa. Sedang diriku tidak seperti mereka.

Tenanglah di syurga wahai As syahidah Asma El Betagi
“Hidup ini terlalu singkat untuk dinikmati. Jadi ayah berdoa kepada Allah semoga kita akan dapat menikmati hidup bersama di syurga”.

- tinta cinta Ayahmu, Mohammed El Beltagi-

First Lady of Turkey
Beside Erdogan, there's Emina
Bergembiralah wahai muslimah, bersyukurlah dengan dirimu apa adanya, juga warna warni peribadimu yang pelbagai namun masih di atas garisan syariat yang Allah tetapkan.

Kerana sirah para mujahidah juga punya cerita. Variasi peribadi mereka tetap menggegar sejarah. Teringat, kisah Nusaibah binti Ka'ab yang melindungi Rasulullah SAW ke mana-mana beliau bergerak dalam peperangan. Ummu Hani pula berani dan berpendirian kuat. Namun, Siti Khadijah itu lembut dan penuh keibuan. Aisyah ra pula ceria dan pemanja orangnya. Di sana, ada Khaulah Al-Azwar yang kehebatan perangnya tak disangkal.

Kata Syauqahwardah, "Seorang muslimah dilahirkan ke dunia ibarat sebutir permata, apabila digilap akan memancarkan kilauan cahaya. Apabila diletak di tempat yang mulia akan disanjung sebagai permaisuri. Apabila dibekal dengan ilmu di dada akan menjadi cendekiawan bestari. Seorang muslimah tetap istimewa sebagai suri hati sang jejaka, menjadi ibunda kepada putera dan puteri serta menjadi bualan penghuni langit dunia."

Akhirnya, takrifan Bidadari Dunia ini bukan ikut ‘apa dia rasa’,

Bidadari Dunia ini, ikut ‘apa Tuhan dia kata’,

Bidadari Dunia ini,

Perempuan yang merupakan manusia,

tetapi melangkah dengan langkahan bidadari.

Mahal. Indah. Tinggi. Mulia.

للَّهُمَّ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Jumaat22052015
Share:

16 April 2015

Puisi Hati : Erti Sebuah Penantian


Istimewa teruntuk jiwa-jiwa yang masih menanti
Janji Allah takkan Ia mungkiri

“… Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang…” (Al-‘Ankabuut: 5)

Ketika rahsia dihijrahkan menjadi kata benda
Ia menawarkan pilihan
Bersabar, atau memaksa menguaknya
Bersabar menanti kejutan indah di balik rahsia
Atau, terhempas sakitnya kecewa kerana memaksa

Ukhti,
Cinta tak seharusnya ada sebelum hadiah Allah itu datang
Hadiah yang sarat  kejutan dan perhiasan kebahagiaan
Allah yang memiliki rahsia itu, maka biarlah kelak Ia yang membukanya, pada masa dan tempat yang tak masuk dalam rekaan
Dengan kesabaran, ada pintu-pintu yang terbuka dan barangkali tak terlihat ketika kita sedang sempit dada
Jelas, ketidaksabaran hanya merosakkan penantian
Sebab amat berbeza, yang dihulurkan penuh keredhaan, dibanding yang dilempar penuh kemurkaan

Ukhti, 
Menanti jodoh tak bererti menjadi pasif, lembik tidak bermaya
Alangkah naifnya bila kita malah banyak membuang waktu untuk memikirkan masalah pernikahan yang tak kunjung tiba
Jika saat ini Allah belum hadirkan jodoh, mungkin masih ada hal dalam diri kita yang perlu diselesaikan
Begitu banyak pekerjaan dan hal lain yang membutuhkan penyaluran potensi kita

Ukhti,
Optimalkanlah potensi diri
Kerana kelak jika kesibukan menjadi isteri dan ibu menghampiri kita
Pasti waktu untuk menuntut ilmu, menghafal Al-Qur'an dan hadis, bahkan untuk bertemu Allah di sepertiga malam, tentu saja akan berkurang 
Nah, kenapa tidak kita optimalkan sejak sekarang?
InshaAllah, kita bisa jadi istiqamah setelah datangnya hal yang dijanjikan

Ukhti,
Ruhiyah? Fikriyah? Maliyah? Jasadiyah? 4 elemen itu sudah dipersiapkankah?
Teruslah usahakan memperbaiki diri
Hingga kelak saat Allah hadirkan pendamping hati, ia tidak kecewa dengan diri kita nanti

Ukhti,
Menjadi isteri tak selamanya di sisi, ada masa tetap jalani sendiri
Menjadi isteri bukanlah puncak prestasi, ia adalah fasa lain dari proses penghambaan pada Ilahi
Apa saja yang sudah kau lakukan dalam penantian saat ini?

Tenanglah dalam kesabaran dan munajat
Barangsiapa yang meletakkan cinta di tempat selayaknya, mematuhi aturan main dan senantiasa bersabar, maka perjalanan cintanya bisa menyentuh jauh sekali
Dan asal kita tidak pernah kehabisan husnu dzon pada Allah, keadaan menunggu janji Allah itu datang pasti indah lagi bererti


Allah menjadi saksi tulisan ini,

Semoga Dia mengurniakan kekuatan, keyakinan dan kebaikan kepada penulis dan pembaca puisi ini.

Semoga Dia redha dan senang pada kita.

“Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nuur : 26).


-Puisi ini hasil rangkuman kata-kata yang menyentuh hati saya.
#IIUM16042015
Share:

14 April 2015

Cerita Nasi Lemak


Nasi Lemak 1

Pagi ini betul-betul meng'spoil'kan. 

Baru excited sebab dapat makan nasi lemak, sayangnya rasanya tak seberapa. Seakan memakan nasi mentah semata-mata. Maka, bibir mulalah merungut penyesalan.

Pada masa yang sama, penceramah yang sedang berceramah di youtube berkata:

"Setiap pemberian Allah itu ujian, benar-benar jadi nikmat kalau disyukuri. Seperti air, mungkin kita kecewa kerana kurang manis atau dingin, tapi kalau minum dengan penuh rasa syukur, minum ini lebih dari sekadar masuknya air ke tubuh.

Kufur nikmat membuat nikmat yang ada tak ternikmati, dan yang belum ada tidak datang."

Seakan buah kelapa gugur di atas kepala. Teguran dari Allah, PASTI.

Nasi Lemak 2

Pagi yang gelap. Kini sudah terang...

Burung pun menyanyi bagaikan memahami cerianya jiwa pagi ini.

Kali ini, nasi lemak dibeli di kafe lain dan ditambah bukan hanya telur mata, tapi sosej. Orang kata, 'mewah.' Kononnya.

Sedang melalui satu jalan, seorang mak cik duduk di tepi jalan, termenung.

"Mak cik dah makan?"

"Mak cik minum je nak. Makan nantilah. Sekarang makanan mahal, karipap pun mak cik fikir banyak kali nak beli."

Hilang terus selera untuk makan nasi lemak pagi itu. Kali ini, seperti buah tembikai yang menghempap kepala.

Teguran Allah lagi. Jangan berlebih-lebihan.

Sendu Sendawa

Dalam hidup ini, ada ramai orang yang memerlukan tapi tidak meminta-minta. Mereka menjaga diri sehingga orang lain menyangka bahawa mereka orang kaya.

Allah berfirman yang bermaksud:

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya kerana memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara paksa. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (Al-Baqarah:273)

Orang-orang seperti inilah yang perlu kita cari untuk diberi pertolongan.

Dalam membeli pun, kita harus berkira-kira. Melihat siapa penjualnya, keperluannya dan sebagainya. Kerana dalam rezeki yang Allah beri pada kita, ada bahagian untuk orang lain. Ada bahagian yang perlu disalurkan agar berkatNya melimpah.

Biarpun kita tak mampu memberi banyak, sedikit pun sudah memadai. Alangkah bahagianya jika kita dapat yakinkan mereka, bahawa rahmat Allah itu luas.

Teringat saya perbualan 2 orang sahabat di pasar;

"Saya teringin nak beli beg tu, tapi... takpelah,"

"Kenapa tak jadi beli?"

"Saya belum ada jawapan untuk Allah, sebab beg saya masih ada dan elok,"

Allah SWT berfirman yang bermaksud: 

“Maka ingatlah Aku nescaya Aku akan mengingatimu dan syukurilah atas nikmat-Ku dan janganlah sekali-kali kamu kufuri nikmat-Ku.” (Al-Baqarah:152).

Bersyukur itu bererti menghargai apa jua pemberian Allah. 

Bersyukur itu juga bererti memberi di jalan Allah.

Semoga Allah redha.

#15042015

Share:

10 April 2015

Kemenangan Yang Tertangguh


"Dah banyak kali doa minta kat Allah. Tak makbul pun..."

"Alah..presentation tangguh lagi. Lambatnya selesai..."

"Kenapa ni, susahnya nak lancar hafalan surah An-Nisa'.."

Kita seringkali merungut dan merungut, tanpa menghayati hikmah penangguhan Allah untuk segala yang diimpikan.

Begitulah sifat manusia yang telah disebut dalam Al-Quran:

"Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (Al Isra': 11)

Ibnu Athoillah menerangkan dalam Al-Hikam:

'Keterlambatan datangnya pemberian (Allah), meskipun sudah dimohonkan berulang kali, janganlah membuatmu patah harapan. Kerana Dia (Allah) telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.'

Beruntunglah bagi orang-orang yang bersabar, menanti penuh harap bahawa janji Allah akan datang sambil terus memperbaiki diri menjadi hamba Allah lebih baik.

Menyedari bahawa penangguhan Allah adalah lebih baik dari kehendaknya yang boleh jadi buruk akibatnya, buruk untuk agama dan akhiratnya.

Allah, jika hendak memberi untuk kekasihNya, pasti kekasihNya akan diuji sejauh mana yakin padaNya.

Allah, jika hendak memberi untuk kekasihNya, pasti Dia memberi yang jauh lebih baik dari yang difikirkan kekasihNya.

Apa salahnya, kita meletakkan diri kita di posisi 'kekasih Allah'. Bersangka baik kepada Allah. 

Ibrah Kisah Si Tampan

Kembali kepada kisah Nabi Allah Yusuf, si tampan yang sabar.

Pesanan Nabi Yusuf kepada salah seorang pemuda yang akan diselamatkan, tidak disampaikan kepada Raja setelah ia dibebaskan.

Syaitan laknatullah telah menjadikannya lupa setelah ia menikmati kebebasan dan dengan demikian, tetaplah Nabi Yusuf berada di penjara beberapa tahun lamanya.

.....Dan syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Kerana itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf: 42)

Allah sekali-kali tidak menzalimi Nabi Yusuf, bahkan Allah sebenarnya mahu Nabi Yusuf keluar dari penjara dalam keadaan jauh lebih baik dan penuh 'izzah.

Benar janji Allah untuk hamba yang bersabar. Setelah Nabi Yusuf berjaya mentakwilkan mimpi Raja, Allah dengan sifat pemurahNya membersihkan nama Nabi Yusuf daripada fitnah sekaligus menganugrahkannya jawatan tinggi di negeri Mesir.

Tidakkah kita mahu mengambil pelajaran?

Malam akan berakhir dan diganti dengan siang. Laut pun ada pasang surutnya. Seperti itulah juga kesulitan akan berganti kemudahan.

Kemenangan, kebahagiaan, juga kenikmatan yang dirindukan pasti akan datang. Asal kita mahu menjadi hamba Allah yang yakin, bersyukur, sabar dan terus istiqamah dalam ketaatan.

Pesan sahabat saya apabila diuji, "Mungkin kita masih kurang munajat dengan Allah.."


Kemenangan Islam

Antara hikmah tertangguhnya kemenangan Islam adalah untuk 'penapisan'. Siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak.

Hal ini disebut Syed Qutb:

"Allah akan beri ujian yang besar, kemudian Allah akan lambatkan kemenangan, kemudian Allah akan sikitkan bilangan, kemudian Allah akan lambatkan penerimaan orang, sehingga terbukti mereka sabar, thabat dan bersedia, sehingga mereka layak menjadi Qaedah Sulbah (anggota teras), kemudian mereka akan bergerak ke hadapan.”

Firman Allah bermaksud:

“Dan demi sesungguhnya! Kami tetap menguji kamu (wahai orang-orang yang mengaku beriman) sehingga ternyata pengetahuan Kami tentang adanya orang-orang yang berjuang dari kalangan kamu dan orang-orang yang sabar (dalam menjalankan perintah kami); dan (sehingga) Kami dapat mengesahkan (benar atau tidaknya) berita-berita tentang keadaan kamu.” (Muhammad: 31)

Demikianlah, yang akan kekal bersama Islam hanyalah mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta menyediakan diri untuk menanggung segala bebanan.

”Ya Allah, izinkanlah kami untuk mengingati dan merindui pertemuan denganMu dalam setiap saat hidup kami...
Kami yakin mati itu benar, sakaratulmaut itu benar...segala janjiMu adalah benar....
Siapa lagi Ya Allah, yang amat benar dan tiada dusta dalam janjinya melainkan Kamu."

#IIUM10042015
Share:

Siti Zulaikha binti Mokhtar. Shaklee Dustributor.

Popular Posts

"umi, kami selongkar dunia maya
dan temukan catatan umi di sana"



"Cita-cita ku adalah menginspirasi jutaan orang
meski mereka tak mengenalku,
biarlah Allah yang menilai kerja-kerjaku"

Categories