"Everyday is a brand new start"

Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

14 January 2017

Live beautifully

Bismillah..


My 2017 Journal

Assalamualaikum 2017!


Tahun baru ini, pasti menjadi tahun yang penuh keindahan dan keajaiban. Make it the best year. Menjadilah seseorang yang selalu kita ingin jadi. Ikutilah kata hati kita yang bersih. Buka mata seluasnya melihat kehidupan ini, perhatikan segalanya, dan jangan terlepas peluang walaupun satu saat.

Telah sampai waktunya, untuk kita perbaharui segalanya tentang hidup dan mencari diri kita kembali. Dalam kata lain, mengenali diri sendiri lebih dalam. Tarik nafas dan lepaskan segalanya yang memeritkan. Ucapkan selamat tinggal!

Let it go. 


Lepaskan segalanya yang memberi kesan negatif kepada hidup kita. Yang berlalu biarlah berlalu. With the mindset of learning to let it go, ia akan mendorong kita untuk bersandar manja kepada Allah. For no matter what happens, Allah will always be there for us. Percaya pada Allah, apa yang sememangnya tertulis untuk kita, pasti akan mendatangi kita di mana jua kita berada. Tak perlu memaksa. Don’t fight a losing battle.


This year is about settling. 


It’s about making it everything we want it to be. Beranilah mengambil risiko. Bercakaplah tentang mimpi-mimpi kita sekuatnya dan kentalkan hati menggapainya. Jangan biarkan sesuatu apa pun memberhentikan perjalanan kita dalam meraih mimpi-mimpi kita. Be our own biggest cheerleader! Jika kita mahu orang lain menyokong impian kita, kita yang harus meyakininya dulu. 100%. 

Slowly, jatuh cinta kembali kepada kehidupan kita. Hanya memilih apa yang membuat kita jadi lebih baik. Sahut cabaran-cabaran yang membuat kita rasa 'hidup'. Hargai setiap yang berlaku dan ambil perhatian kepada sekecil-kecil perkara yang membuat kita bersyukur. Jika kita ambil masa untuk menjadi researcher kepada kehidupan ini, nanti akan kita lihat kehidupan yang tersusun cantik!


This is your own love story

Self-love. 

Sayangi diri sendiri. Bukan bererti kita harus egois, mengasingkan diri atau mementingkan diri sendiri. Self-love ialah tentang menghormati setiap keputusan yang kita ambil. Mempercayai diri sendiri. Accept just the way we are. 

It’s about being our own best friend. Holding our own hand and walking gently through the journey of life. Berhenti menagih-nagih kasih manusia dan memarahi diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Setidaknya itu menjadi pengajaran dan kenangan buat kita.

You always have ‘you’

Manusia akan datang dan pergi. But you always have ‘you’. You’ll be with you for the rest of your life. Bila kita telah merancang sesuatu yang terbaik untuk hidup kita - yup follow through, otherwise kita akan berhenti mempercayai diri sendiri.

Ini adalah kehidupan kita. Kita berhak untuk hidup di dalamnya sebagaimana yang kita inginkan. Take the road less traveled. Keep on going. Your destination will be where you were meant to be all along.

Say alhamdulillah.

Live beautifully.

#notefrommyselftomyself
Januari 2017
Nilai
Share:

07 October 2015

Peristiwa Peradaban

Gambar Hiasan

Bismillah..

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."  (Al-Furqon : 74)

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu dibicarakan namun ia pasti akan datang.

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.

‘Sakinah’ bukan cuma ‘tenang’. Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang ertinya ‘diam/tetap/stabil’. Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.

Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.

Al-Qur’an menjelaskan: ‘Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya’. Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas.

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. 

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.

Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban. 

[Khutbah pernikahan anak Ust.Tate Qomaruddin oleh Ustaz Anis Matta]


Menikah adalah amanah. Menikah adalah dakwah. Maka segala di dalamnya harus sesuai dengan syariat ibadah, amanah, dan dakwah.

Benarlah, pernikahan adalah akad untuk segala yang bernama kebaikan!

Wallahualam.
Share:

30 June 2015

Doa Sebelum Ngaji


Adira (bukan nama sebenar) tarik muka dua belas,"Haishhh ustazah ni.. banyak betul komen

"Esok nak dengar Adira baca doa tu pelan-pelan. Ni laju benar, tak feel langsung."

Mana tidaknya, baca doa macam kejar kereta api.

Doa ngaji yang disediakan bersama terjemahan bukan hanya disyaratkan baca (syarat untuk kelas Al-Quran saya), tapi tujuannya untuk dihayati.

Teringat pesanan Dr Asri Zainal Abidin:
"Kemustajaban doa sangat berkait dengan kekusyukan jiwa hamba yang berdoa. Semakin tertumpu perasaannya kepada kebesaran Allah, semakin pantas doanya dimustajabkan. Sebenarnya, bukannya susah untuk berdoa, tetapi yang susah ialah mencari jiwa yang khusyuk yang menyebabkan doa mustajab."

Lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan ini. Tambah Dr MAZA lagi, walaupun unsur tempat yang mustajab ataupun waktu mustajab telah dipenuhi, namun jangan hairan jika ada insan yang tidak dimustajabkan doanya. Ini kerana gagalnya insan tersebut untuk memenuhi perkara yang asasi iaitu jiwa yang khusyuk yang benar-benar memohon dengan penuh erti.


Bagi kita yang ingin memulakan bacaan Al-Quran, eloklah sama-sama memperbaiki hubungan kita dengan Al-Quran melalui doa dan harapan.

Dalam kuliah dhuha muslimat baru-baru ini, Ustazah Norhafizah Musa ada berkongsi sebahagian niat yang perlu diurus oleh hati sebelum membaca Al-Quran. Antaranya:

1) Niatkan agar Al-Quran dapat memberi syafaat dan menjadi hujah di akhirat.

Setiap kebaikan yang kita buat akan kembali kepada kita. Firman Allah bermaksud:

"Jika kamu berbuat kebaikan, (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga." (Surah Al Isra’ : 7) 

Justeru, apabila kita benar-benar mengharapkan Al-Quran menjadi syafaat di hari akhirat, kesannya kita tidak akan membacanya dalam keadaan lalai. InshaAllah, setiap pengorbanan kita sama ada untuk mentadabbur, menghafal, mengamalkan, dan mengajarkan termasuk dalam kebaikan yang akan berbalik kepada diri kita.

2) Niatkan agar mendapat kurniaan Agung dari Allah.

Bayangkan kita dijemput ke satu majlis sebagai vip. Kita tak perlu bersusah payah mencari parking, malah diarak sehingga ke tempat duduk. Ketika tiba waktu makan, kita dihidang dengan makanan yang jauh lebih menyelerakan. Wah, berbunga-bunga hati menjadi istimewa!

Begitulah analoginya kurniaan agung dari Allah yang sesungguhnya jauh lebih baik, buat duta agama-Nya. Siapakah mereka? 

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Para ahli Al-Quran. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.”
(Disahihkan oleh Al-Albany dalam sahih Ibnu Majah)

Semoga, intimnya kita dengan Al-Quran menjadi sebab Allah memilih kita menjadi ahli-Nya. 
Amin.

3) Niatkan agar penyakit-penyakit hati hilang.

Hati manusia itu berbolak balik sifatnya. Kata Imam Al Ghazali:
"Belum pernah aku berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwaku sendiri, yang kadang-kadang membantuku dan kadang-kadang menentangku."
Maka carilah kalam Allah sebagai penawarnya.

“Hanya dengan mengingati Allah hati-hati menjadi tenang tenteram." (Surah Al-Ra’du: 28)

Jika masih ada perasaan dengki, riak, buruk sangka, sukakan perhatian orang, sombong dan sebagainya, ini bermakna tadabbur Al-Quran kita masih kurang. Hati kita masih lalai dari peringatan dan nasihat Allah.

Firman Allah dalam surah As Sajdah ayat 15 bermaksud:

"Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong”. 

Semoga hati kita kembali hidup, mati hati kembali bersinar dan dibuang kesedihan dalam diri kita.

DOA PARA PECINTA AL-QURAN

Rasulullah saw  bersabda :

“Barangsiapa yang sedang mendapatkan musibah, kesedihan hati dan kegundahan jiwa kemudian membaca do’a ini pastilah Allah akan menghilangkan semua kesedihan dan kesulitannya serta menggantikan dengan jalan keluar baginya”.

اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوْبِناَ، وَنُوْرَ صُدُوْرِناَ، وَجَلاَءَ أَحْزَانِناَ، وَذَهَابَ هُمُوْمِناَ

“Ya Allah jadikanlah Al-Quran sebagai penyejuk hati kami, cahaya yang menyinari dada kami, pelipur duka kami dan penghapus kesedihan kami”.

Lalu seseorang bertanya kepada Rasulullah saw,

“Ya Rasulullah, bolehkah kami menghafalkannya ?”.

Beliau menjawab : “Aku anjurkan bagi yang mendengarnya agar menghafalkan (dan mengamalkannya)”.

(Hadis Riwayat Hakim dalam Al-Mustadrak, beliau berkata : Hadis ini Sahih dengan persyaratan Imam Muslim)

14 Ramadhan 1436H
01072015
UIAM

Share:

03 June 2015

Fastabiqul Khairat!



Syaikh Ibnu Atho’illah menerangkan; 
“Jangan menuntut Allah kerana terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada-Nya, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu, supaya tidak terlambat melaksanakan kewajipan-kewajipanmu terhadap Allah, Tuhanmu.”

Jika kita mengenal Allah dengan baik, maka pasti kita tidak akan protes terhadap Allah atas apapun yang Allah tetapkan untuk kita. Kerana, Allah adalah pencipta kita, Allah yang memiliki diri kita, dan Allah Maha Tahu segala permasalahan dan keperluan kita.

Ada kalanya dalam keadaan lapar, Allah menghendaki agar kita tidak langsung bertemu dengan makanan sehingga beberapa saat kita harus merasakan lapar lebih lama.

Namun, pasti ada hikmahnya. Boleh jadi supaya kita lebih mensyukuri nikmat Allah, yang mana selama ini kita seringkali lupa jika makanan dengan mudah kita temukan.


Dengan ditundanya makanan, maka ketika kita akhirnya bertemu dengan makanan meski sedikit saja, rasanya akan lebih nikmat. Kalau kita terbiasa dengan makanan yang berlimpah, maka akan kurang rasa syukurnya. Maka, untuk melatih kita pandai bersyukur, ditahanlah makanan oleh Allah.

Justeru, janganlah berburuk sangka kepada Allah jikalau suatu saat ada permohonan kita atau ada kebutuhan kita yang kita rasa terlambat terpenuhi. Walaupun, kita telah berdoa dan berusaha sekuat tenaga, namun harapan kita masih belum juga terwujud.

Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun’alaih).

Pada akhirnya, bila kita sudah bersangka baik dengan Allah dan berusaha menjadi hamba yang bersyukur, maka tiada masalah doa kita terlambat dikabulkan. Kerana, keterlambatan pun hanyalah pada penilaian kita saja sebagai makhluk. 

Yang menjadi masalah adalah jikalau kita terlambat solat di awal waktu, terlambat sedekah, terlambat tilawah Al-Quran, terlambat menolong orang lain, berbuat dosanya banyak namun istighfarnya terlambat. Lebih baik ketika kita merasa ada yang terlambat dari Allah, segera kita periksa apa yang terlambat dari diri kita.

Allah tahu kita memperbaiki diri, Allah tahu kita menyegerakan istighfar dan taubat, Allah tahu kita menyegerakan amal-amal soleh kita. Demi Allah, semua ini tidak akan sia-sia di hadapan Allah. Allah akan membalasnya dengan kebaikan yang tiada pernah kita bayangkan sebelumnya.

Yakinilah bahwa ketika terlintas di dalam fikiran kita bahawa Allah terlambat menolong kita, sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang melupakan berbagai nikmat Allah yang sudah dan sedang kita rasakan. 

Tutuplah mata sebentar dari melihat nikmat yang Allah berikan pada orang lain yang belum kita kecapi. Kembalilah kepada sikap yang terbaik dan sangat disukai Allah, iaitu fokus pada diri kita untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan kita kepada-Nya. 


Dan bila datang pertolongan juga janji-Nya, kita akan mensyukurinya lebih dari biasa.

Semoga kita termasuk orang-orang yang sentiasa menyegerakan diri melakukan amalan-amalan yang diridhai dan dicintai oleh Allah.

"Jika kamu berdoa, berdoalah dengan tulus. Kamu tidak akan pernah takut doamu tidak sampai, kamu tidak perlu khawatir doamu tidak terkabul. Karena semua doa itu dikabulkan, hanya caranya saja kita yang tidak bisa memahami bagaimana sebuah doa bisa terkabul, kapan terkabulnya, dan bagaimana bentuk jawabannya.” -masgun

Fastabiqul khairat!



-Ditulis oleh AaGym


Share:

31 May 2015

Senyum "TIGA"


Setelah dioffer menjadi fasilitator, entah kenapa saya terus bersetuju. Bukan kerana peperiksaan akhir sudah berakhir.

"InshaAllah...selagi dapat memberi manfaat untuk ummah

Dalam kesibukan peperiksaan serta penulisan, alhamdulillah Allah memberi peluang saya menyertai gerak kerja Kem Kepimpinan Al-Fateh.

Kanak-kanak sekolah rendah tak pernah sama dengan remaja sekolah menengah. Remaja sekolah menengah pemikirannya tak pernah sama dengan pelajar universiti. Pelajar universiti pula tak sama dengan masyarakat awam. Dari perbezaan fikiran dan cara pengendalian ini, saya teruja untuk belajar sesuatu.

"Alamak..saya paling tak pandai jadi fasi yang serius dan garang" Setelah melihat fasi-fasi lain yang sangat bagus, hati ini jadi sedikit gementar memulakan slot. Akhirnya, saya membuka dengan senyuman penghilang debaran.

"Kak Jue nak sepanjang slot Kak Jue, adik-adik senyum TIGA..."

Di sini saya belajar tentang diri sendiri, di samping belajar dari fasi-fasi yang lain. Kelembutan itu perlu, tapi adakala ketegasan juga sangat penting dalam pendidikan.


Antara saat yang saya tunggu-tunggu adalah waktu solat berjemaah. Getar hati mendengar seorang pelajar melaungkan azan. Hati tambah sayu ketika pelajar serta fasilitator berzikir dan berdoa bersama. Melihat adik-adik yang masih muda, adalah sangat penting untuk mentarbiyah mereka dengan cara hidup Islam yang sebenar di manapun mereka berada, apapun yang mereka lakukan.

Sesekali kagum dengan cara didikan ibu bapa mereka yang memberi impak kepada akhlak dan tingkahlaku peserta kem. 

"Takpelah...Allah belum bagi menang. Tak ada rezeki lah tu" kata si tembam dengan wajah ceria.

"Kak Jue..tolong doakan kami ye" ...sambil tangan mereka seakan merayu. Tersenyum saya mendengar. Ternyata mereka telah diasah tentang kepentingan "doa" dalam kehidupan.


Alhamdulillah.

Syukur pada Allah masih memberi peluang saya menjadi fasilitator, walaupun di kala umur telah sampai suku abad. Saya anggap inilah latihan sebelum saya mendidik ummah yang lebih besar, inshaAllah.

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".[Al-Kahfi :10]


Di akhir program, ketika sedang khusyuk membuat video, seorang peserta lelaki datang menyapa di hadapan.

"Kak Jue.... Tiga.. Tiga..."

"Tiga apa?" 

"Senyum TIGA lah kak Jue.." Dia senyum.

Agaknya wajah saya terlalu berkerut. Ingat betul adik itu pada senyum TIGA semalam. Hilang lelah, lalu saya hadiahkan senyuman TIGA paling manis buat dia.

31 Mei 2015
Kem Sri Raudhah
Semoga Allah jadikan mereka seperti pemuda Al-Kahfi, pemuda agama, pencetus kemenangan ummah!


Share:

30 April 2015

Definisi 'bercakap'



"Aku minta kamu menggantikannya ya?"

"Menggantikan Pak Kiai menjelaskan isi Al-Hikam? Aduh, maaf Pak Kiai saya masih belum bisa. Sungguh, saya masih belum mampu memahami dan menghuraikan karya Ibnu Athoillah"


"Kamu itu jangan merendah tau Zam..kamu kan lulusan Al-Azhar. Pasti bisa."


Akhirnya, Azzam melakukannya atas dorongan Pak Kiai Lutfi. 

Mahasiswa Al-Azhar, tugasnya menabur bakti kepada ummah!

(Dari Filem Ketika Cinta Bertasbih)

**************************************************************


"Salam.
Ustazah Norhafizah Musa  minta gantikan dia kuliah dhuha muslimat tengahari ni.
Zulaikha boleh?"

"Hee berpeluh saya...tak sedia lagi huhu ilmu kurang sangat ni"

"Cara menambah ilmu yang paling berkesan ialah dengan memberi apa yang seadanya"

Walaupun atas dorongan ustazah, Zulaikha tetap tidak melakukannya kerana merasai belum cukup ilmu dan keyakinan.

Itu semua alasan. Bisikan syaitan agar kita tak cuba melakukan yang terbaik untuk agama. 

Bukankah tujuan mendalami ilmu agama selain mengamal, juga menyampaikan?


Bertahun-tahun Allah melatih saya untuk berkeyakinan bercakap. Sejak kecil, saya sangat benci ke hadapan dan bercakap. Keyakinan saya sangat rendah.

Namun Allah dengan rahmat-Nya meletakkan saya di jalan yang menjadi kebencian. Saya pernah diminta mewakili sekolah dalam pertandingan pidato. Kerana terlalu gementar, akhirnya saya terlupa skrip di pentas.

Masih jelas di ingatan, apabila ketua kumpulan dari Sekolah Alam Shah memperlekehkan saya kerana diamnya saya ketika melakukan diskusi untuk aktiviti PRS SBP.

Dengan sengaja, beliau mengarahkan saya seorang diri untuk meng'handle' kumpulan yang agak besar. Ah, hanya Allah tahu betapa geramnya saya ketika itu!

Tiket masuk ke Zoo Taiping sewaktu Kem PRS SBP 
Kebangsaan di Perak tahun 2006.
Tak sangka saya masih menyimpannya!

Nadwah Kepimpinan Islam SBP pun tetap segar dalam kotak memori. Mahu menangis rasanya bila ditakdirkan berLDK bersama pendebat sekolah dan bayangkan, kami ditugaskan berdebat!

Nyawa saya bagai telur di hujung tanduk (lebih kurang)..

Mungkin ketika itu saya belum mengetahui kisah Nabi Musa yang diciptakan sedikit kekurangan, iaitu kurang fasih berbicara. Sudahlah begitu, Allah kemudiannya menyuruhnya bertemu Firaun.


Meskipun begitu, baginda menyedari itu adalah amanah Allah dan tak boleh diabaikan. Kerana itu, Nabi Musa meminta Allah melepaskan simpulan lidahnya supaya dapat bercakap lebih lancar.



"Ya Rabbku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” 
(Surah Thoha: 25-28)

Semakin dewasa, barulah saya mengerti hikmah takdir Allah kepada perjalanan hidup saya. Tak mudah, untuk melalui semua yang menjadi kebencian yang hakikatnya, baik menurut Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
(Surah Al-Baqarah ayat 216)

Benar, pandai bercakap itu sebahagian kelebihan kurniaan Allah. Namun bagi yang tidak memiliki kelebihan itu, kita masih boleh belajar dan jangan sekali-kali memandang rendah kepada diri.


"Belon terbang bukan kerana warnanya, melainkan kerana isinya." (cahyadi)

Potensi dan kejayaan juga diukur dengan seberapa banyak yang berjaya difahami orang lain dan menggerakkan mereka untuk beramal. Juga, seberapa banyak yang bermanfaat dan memberi jalan mereka mengenal Allah. Akhirnya, berbalik kepada Allah jua.


Ustaz Norhisyam pernah bercerita tentang seorang ustaz zuhud yang banyak menulis buku. Kata beliau, "Ustaz ini Allah anugerahkan ilham yang luar biasa dan kata-katanya adalah kata-kata orang yang tidak pernah tinggalkan tahajud."

Bukan senang bercakap seperti mana Hasan Al-Banna. Kata-kata beliau padat, ringkas tetapi mantap serta memberi kesan mendalam kepada jiwa pendengar. Bukan senang berbicara seperti Ibn Qayyim, patah katanya mampu mengalirkan air mata si pendengar. Menusuk sampai ke hati.

Lalu mintalah kepada Allah, agar kita terpilih menjadi wasilah apa yang disampaikanNya.


Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sampaikan dariku walaupun sepotong ayat."

Melihat posisi ummah dalam keadaan kritikal dan begitu ramai para muslimah yang memerlukan bimbingan, saya tahu saya harus ke hadapan dengan ilmu yang Allah anugerahkan dan pengalaman yang Allah hadiahkan. 

Belajar dalam bidang agama bukan hanya untuk diri kita sendiri mendalami ilmu, tapi jauh lebih penting adalah untuk menjadi doktor kepada penyakit ummah.

Masa sedang berjalan. Ummah sedang menanti mahasiswa agama membuat perubahan.

Bercakap. Bercakap itu penat kan. Setiap patah kata dikira Allah. Astaghfirullah, berat bebanannya.

Tapi keletihan fizikal hanya keletihan yang sia-sia jika tak diiringi keyakinan ruhiyah dan niat lillah.


Wallahu'alam.


1Mei2015

Share:

14 April 2015

Cerita Nasi Lemak


Nasi Lemak 1

Pagi ini betul-betul meng'spoil'kan. 

Baru excited sebab dapat makan nasi lemak, sayangnya rasanya tak seberapa. Seakan memakan nasi mentah semata-mata. Maka, bibir mulalah merungut penyesalan.

Pada masa yang sama, penceramah yang sedang berceramah di youtube berkata:

"Setiap pemberian Allah itu ujian, benar-benar jadi nikmat kalau disyukuri. Seperti air, mungkin kita kecewa kerana kurang manis atau dingin, tapi kalau minum dengan penuh rasa syukur, minum ini lebih dari sekadar masuknya air ke tubuh.

Kufur nikmat membuat nikmat yang ada tak ternikmati, dan yang belum ada tidak datang."

Seakan buah kelapa gugur di atas kepala. Teguran dari Allah, PASTI.

Nasi Lemak 2

Pagi yang gelap. Kini sudah terang...

Burung pun menyanyi bagaikan memahami cerianya jiwa pagi ini.

Kali ini, nasi lemak dibeli di kafe lain dan ditambah bukan hanya telur mata, tapi sosej. Orang kata, 'mewah.' Kononnya.

Sedang melalui satu jalan, seorang mak cik duduk di tepi jalan, termenung.

"Mak cik dah makan?"

"Mak cik minum je nak. Makan nantilah. Sekarang makanan mahal, karipap pun mak cik fikir banyak kali nak beli."

Hilang terus selera untuk makan nasi lemak pagi itu. Kali ini, seperti buah tembikai yang menghempap kepala.

Teguran Allah lagi. Jangan berlebih-lebihan.

Sendu Sendawa

Dalam hidup ini, ada ramai orang yang memerlukan tapi tidak meminta-minta. Mereka menjaga diri sehingga orang lain menyangka bahawa mereka orang kaya.

Allah berfirman yang bermaksud:

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya kerana memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara paksa. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." (Al-Baqarah:273)

Orang-orang seperti inilah yang perlu kita cari untuk diberi pertolongan.

Dalam membeli pun, kita harus berkira-kira. Melihat siapa penjualnya, keperluannya dan sebagainya. Kerana dalam rezeki yang Allah beri pada kita, ada bahagian untuk orang lain. Ada bahagian yang perlu disalurkan agar berkatNya melimpah.

Biarpun kita tak mampu memberi banyak, sedikit pun sudah memadai. Alangkah bahagianya jika kita dapat yakinkan mereka, bahawa rahmat Allah itu luas.

Teringat saya perbualan 2 orang sahabat di pasar;

"Saya teringin nak beli beg tu, tapi... takpelah,"

"Kenapa tak jadi beli?"

"Saya belum ada jawapan untuk Allah, sebab beg saya masih ada dan elok,"

Allah SWT berfirman yang bermaksud: 

“Maka ingatlah Aku nescaya Aku akan mengingatimu dan syukurilah atas nikmat-Ku dan janganlah sekali-kali kamu kufuri nikmat-Ku.” (Al-Baqarah:152).

Bersyukur itu bererti menghargai apa jua pemberian Allah. 

Bersyukur itu juga bererti memberi di jalan Allah.

Semoga Allah redha.

#15042015

Share:

10 April 2015

Kemenangan Yang Tertangguh


"Dah banyak kali doa minta kat Allah. Tak makbul pun..."

"Alah..presentation tangguh lagi. Lambatnya selesai..."

"Kenapa ni, susahnya nak lancar hafalan surah An-Nisa'.."

Kita seringkali merungut dan merungut, tanpa menghayati hikmah penangguhan Allah untuk segala yang diimpikan.

Begitulah sifat manusia yang telah disebut dalam Al-Quran:

"Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa." (Al Isra': 11)

Ibnu Athoillah menerangkan dalam Al-Hikam:

'Keterlambatan datangnya pemberian (Allah), meskipun sudah dimohonkan berulang kali, janganlah membuatmu patah harapan. Kerana Dia (Allah) telah menjamin untuk mengabulkan permintaanmu sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.'

Beruntunglah bagi orang-orang yang bersabar, menanti penuh harap bahawa janji Allah akan datang sambil terus memperbaiki diri menjadi hamba Allah lebih baik.

Menyedari bahawa penangguhan Allah adalah lebih baik dari kehendaknya yang boleh jadi buruk akibatnya, buruk untuk agama dan akhiratnya.

Allah, jika hendak memberi untuk kekasihNya, pasti kekasihNya akan diuji sejauh mana yakin padaNya.

Allah, jika hendak memberi untuk kekasihNya, pasti Dia memberi yang jauh lebih baik dari yang difikirkan kekasihNya.

Apa salahnya, kita meletakkan diri kita di posisi 'kekasih Allah'. Bersangka baik kepada Allah. 

Ibrah Kisah Si Tampan

Kembali kepada kisah Nabi Allah Yusuf, si tampan yang sabar.

Pesanan Nabi Yusuf kepada salah seorang pemuda yang akan diselamatkan, tidak disampaikan kepada Raja setelah ia dibebaskan.

Syaitan laknatullah telah menjadikannya lupa setelah ia menikmati kebebasan dan dengan demikian, tetaplah Nabi Yusuf berada di penjara beberapa tahun lamanya.

.....Dan syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Kerana itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. (Yusuf: 42)

Allah sekali-kali tidak menzalimi Nabi Yusuf, bahkan Allah sebenarnya mahu Nabi Yusuf keluar dari penjara dalam keadaan jauh lebih baik dan penuh 'izzah.

Benar janji Allah untuk hamba yang bersabar. Setelah Nabi Yusuf berjaya mentakwilkan mimpi Raja, Allah dengan sifat pemurahNya membersihkan nama Nabi Yusuf daripada fitnah sekaligus menganugrahkannya jawatan tinggi di negeri Mesir.

Tidakkah kita mahu mengambil pelajaran?

Malam akan berakhir dan diganti dengan siang. Laut pun ada pasang surutnya. Seperti itulah juga kesulitan akan berganti kemudahan.

Kemenangan, kebahagiaan, juga kenikmatan yang dirindukan pasti akan datang. Asal kita mahu menjadi hamba Allah yang yakin, bersyukur, sabar dan terus istiqamah dalam ketaatan.

Pesan sahabat saya apabila diuji, "Mungkin kita masih kurang munajat dengan Allah.."


Kemenangan Islam

Antara hikmah tertangguhnya kemenangan Islam adalah untuk 'penapisan'. Siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang tidak.

Hal ini disebut Syed Qutb:

"Allah akan beri ujian yang besar, kemudian Allah akan lambatkan kemenangan, kemudian Allah akan sikitkan bilangan, kemudian Allah akan lambatkan penerimaan orang, sehingga terbukti mereka sabar, thabat dan bersedia, sehingga mereka layak menjadi Qaedah Sulbah (anggota teras), kemudian mereka akan bergerak ke hadapan.”

Firman Allah bermaksud:

“Dan demi sesungguhnya! Kami tetap menguji kamu (wahai orang-orang yang mengaku beriman) sehingga ternyata pengetahuan Kami tentang adanya orang-orang yang berjuang dari kalangan kamu dan orang-orang yang sabar (dalam menjalankan perintah kami); dan (sehingga) Kami dapat mengesahkan (benar atau tidaknya) berita-berita tentang keadaan kamu.” (Muhammad: 31)

Demikianlah, yang akan kekal bersama Islam hanyalah mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta menyediakan diri untuk menanggung segala bebanan.

”Ya Allah, izinkanlah kami untuk mengingati dan merindui pertemuan denganMu dalam setiap saat hidup kami...
Kami yakin mati itu benar, sakaratulmaut itu benar...segala janjiMu adalah benar....
Siapa lagi Ya Allah, yang amat benar dan tiada dusta dalam janjinya melainkan Kamu."

#IIUM10042015
Share:

Siti Zulaikha binti Mokhtar. Shaklee Dustributor.

Popular Posts

"umi, kami selongkar dunia maya
dan temukan catatan umi di sana"



"Cita-cita ku adalah menginspirasi jutaan orang
meski mereka tak mengenalku,
biarlah Allah yang menilai kerja-kerjaku"

Categories